Postingan

Cerpen Agus Sanjaya

Badut Seratus Koin Bunga-bunga illawari mulai berguguran, menyebar di jalan menuju Desa Azuria. Merah warnanya membuat mata tak berhenti memandang. Seperti karpet merah untuk model ternama melangkahkan kakinya, hanya saja jauh lebih panjang membentang. Keindahan itu mungkin tidak bisa dirasakan oleh sepasang suami istri miskin. Mereka hanya memikirkan nasib perut, bagaimana cara mengumpulkan uang untuk membeli sekantong gandum. Kemiskinan harus membuat keduanya merasakan perihnya perut yang melilit. Sungguh ironi yang tak pernah dimengerti oleh penguasa. Sang suami mencari beberapa ubi yang masih tersisa di pekarangan rumah. Ia mencabut dan membawanya untuk dibakar. Rupanya ubi itu tidak manis sama sekali, hambar seperti kehidupan suami istri tersebut. Meski begitu mereka tetap bersyukur, Tuhan masih memberikan mereka rezeki dan kesehatan. Mereka menanam jagung di ladang kecil milik orang lain. Sistemnya menyewa lahan, dalam sebulan keduanya harus membayar dua koin emas. Saat panen ber

Puisi Agus Sanjaya

Gambar
Sayang Kamu Tiada yang lebih hangat, daripada dekapanmu Sebab kamu: selalu pandai menampar angin Yang terus menggoda perut dan leherku Aku akan selalu menyayangimu Meski kau tak punya kaki 2 Juni 2022 Tak Punya Tangan Setiap kali aku ingin tidur, kau selalu meninabobokkan.  Walau dengan keterbatasanmu, yang terdiam lumpuh di tempat.  Dengan kepala hanya menoleh: ke kiri dan kanan,  tanpa memiliki sepasang tangan. Kau sungguh luar biasa, Sayang. 2 Juni 2022 Saat Kau Lenyap Setiap bulan Kau pasti lenyap Membuat duniaku senyap Dan aku jadi gila Mencari-cari penggantimu Kau memang menyebalkan! 6 Juni 2022 Biodata Penulis Agus Sanjaya lahir di Jombang, 27 Agustus 2000. Ia mendapatkan juara favorit dalam Lomba Cipta Puisi Nasional Catatan Pringadi tahun 2022. Buku pertamanya berjudul Akar Kuning Nenek, serta keduanya berjudul Lima Sekawan terbit di Guepedia tahun 2020. Saat ini ia tengah sibuk kuliah, mengirimkan karya ke media, dan bergiat menimba ilmu di COMPETER Indonesia sert

Cerpen Agus Sanjaya

      Ilusi Kalvaria      Terlihat seorang pemuda memakai jas almamater tengah duduk di kursi depan perpustakaan Universitas Nirwana. Matanya memperhatikan handphone yang sedari tadi dipegangnya, nampaknya ia sangat serius hingga tak sadar jika ada yang menepuk pundaknya.     "Gue dari tadi nyariin Lo kemana aja, ternyata di sini." kata temannya yang bernama Deni.     "Gue dari tadi di sini, mikirin tugas akuntansi pusing banget nih bro." jawab seseorang bernama Rian itu, nampaknya ia frustasi.     "Ya elah, ayo ngopi aja ke kantin biar gak pusing."     "Ya deh, ayo!"     Tukang kebun nampak sedang merawat bunga yang tumbuh di depan Gedung F, mereka berpakaian seragam berwarna merah. Mereka diawasi oleh dosen yang berbadan besar dan berkepala botak, durasi waktu dipercepat karena setelah itu akan ada mata kuliah.      "Lihatlah! Mereka nampak semangat bekerja." kata Rian.     "Betul, gue jadi ingat sebuah cerita." kata Deni me

Puisiku dimuat di Riau Sastra

Mungkinkah bapak masih mengingat kami? Padahal dulu kita sering makan cimol bersama Selengkapnya di https://www.riausastra.com/2021/10/11/puisi-tuan-jacky-yang-tua/ Selamat menikmati

Masa Pecah Ketuban

Agus Sanjaya Harapanku mulai terpupus habis. Saat melihat dunia terbaring bangga. Di sana kumelihat tikus-tikus kejang bergeletakan, juga roti gulung disajikan busuk. Gerhana mulai terbenam di persimpangan khatulistiwa. Kafan-kafan berjalan di malam hari mencari mangsa. Tengah malam pintuku diketuk tiga kali. Suara kematian dari mobil jenazah memekakkan telinga, bayangan tetanggaku direnggut satu persatu. Raja selalu memuja surat emasnya, digulung menjadi teka-teki tiada solusi. Jiwa-jiwa suci dibanting berserakan bak sampah di tahun baru. Kami melewati pecah ketuban dengan segala tanda tanya dan ketakutan tiada henti.  (Masih dalam situasi yang sama) Jombang, 7 juli 2021

Terlalu Klise

  Terlalu Klise Agus Sanjaya Kau menjauh dengan tangan melambai. Jejak kakimu seakan menghilang tertiup angin. Gula-gula yang telah kau berikan kini terasa pahit, seakan rasa manis takkan tersisa lagi. Air terjun mengaliri pipiku, melihat sandiwara yang kau pertontonkan di malam minggu. Bayangan yang dulu kurindukan seperti oase padang pasir, kini menghabisi nyawaku dengan keji. Perasaan hangat yang setiap pagi kau sinarkan, kini layaknya sebuah dongeng yang diceritakan pada anak sebelum tidur. Aku menyaksikan hatiku sudah kau masak dengan aneka bumbu. Kau makan seperti hewan kelaparan. Setelah itu kau tinggalkan aku dengan berselimutkan air hujan. Malam terasa dingin menusuk tulang selangka. Kau tersenyum sinis, seakan aku anak kucing yang ditinggal majikannya. Aku terdiam di tepi danau, menunggu mataku yang perlahan mulai terpejam. Hingga semuanya gelap dan dunia terasa menghilang dari genggaman tanganku. Jombang, 13 Juli 2021

My Poem2 (Sepahit Kopi)

Sepahit Kopi Masa itu kami habiskan dengan segelas kopi Mengisi canda dan bahagia kehidupan Hingga mereka pun datang membawa sepi Mengisi kami dengan kesuraman abadi Kami diam terbungkam Menyaksikan setiap jalan dipenuhi seonggok daging bergeletakan Membusuk dipenuhi lalat tak siapapun peduli Kabar menyebut mereka tak pernah berhenti Sampai bumi menjadi sepahit kopi Menyisakan anak tanpa ayah, atau istri tanpa suami Kami berdiri mengumandangkan lagu kematian Burung gagak memenuhi langit, menutupi surya hingga sinarnya tak nampak lagi Biarlah kenangan minum kopi disana masih mengganjal di hati Kami hanya mampu melabuhkan doa di luar tempat suci yang rapat terkunci Jombang, 20 Juni 2020